Layanan Antar Jemput Hemodialisa

RSUD Kajen Siapkan Layanan Jemput Gratis untuk Pasien Hemodialisa

KAJEN, suaramerdeka.com – Memberikan kenyamanan bagi pasien hemodialisa merupakan sesuatu yang penting. Karenanya, ruang hemodialisa yang diresmikan Bupati Asip Kholbihi, Senin (11/9) didesain untuk memberikan kenyaman dengan pemandangan persawahan hijau.

Dengan begitu, pasien hemodialisa ketika menjalani proses cuci darah bisa menikmati hamparan tanaman padi dan suara percikan air di kolam ikan di luar ruang tersebut. Selain meresmikan ruang hemodialisa, Bupati Pekalongan Asip Kholbihi beberapa pelayanan terbaru dari RSUD Kajen juga diresmikan, seperti CT Scan, ruang sterilisasi peralatan, dan ruang terapi.

Direktur RSUD Kajen, Dwi Arie Gunawan, menyatakan, hemodialisa merupakan unit unggulan dari RSUD Kajen. Manajemen rumah sakit juga telah menyiapkan layanan jemputan gratis bagi masyarakt miskin. Adapun skema pembiayaan akan menggunakan dana Lazis yang dikelola Rumah Zakat Indonesia.

Menurutnya, selama 12 tahun RSUD Kajen berdiri capaian paling membanggakan adalah diraihnya akreditasi paripurna bintang lima. Raiahan ini didapat setelah berproses selama tiga tahun. Bagi RSUD Kajen ini luar biasa.

“Sekarang RSUD Kajen tidak lagi dipandang sebelah mata. Saat sejumlah rumah sakit dari sabang sampai merauke mulai berdatangan ke sini (RSUD Kajen) untuk studi soal bagaimana caranya mendapatkan akreditas paripurna. Dan Alhamdulillah 99,9 persen semua rumah sakit yang datang ke sini mendapatkan akreditasi paripurna,” katanya.

Namun, kata dia, yang lebih membanggakan lagi adalah tumbuhnya semangat berbagi seluruh civitas RSUD Kajen dengan Lazis yang dikelola Rumah Zakat Indonesia, untuk digunakan membiayai pasien yang tidak tercover oleh asuransi pemerintah dan skema pembiyaan lainnya.

Sementara itu, Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi, BLUD itu menjadi satu ke satuan hukum dari sistem pemerintahan daerah. Yang diberikan flesibilitas itu kaitannya hanya pengelolaan keuangannya. Tujuannya adalah supaya ambil untungnya tidak terlalu banyak. “Tarifnya jangan sampai lebih mahal dari rumah sakit rumah sakit swasta,” katanya.

Pada kesempatan itu, ia juga mengingatkan untuk meningkatkan kinerja, terutama menekan angka kematian ibu melahirkan dan anak baru lahir. Tujuannya adalah supaya indeks pembangunan manusia di Kabupaten Pekalongan meningkat.

Selanjut, dia mengatakan, dari 27 puskesmas yang telah akreditasi, diharapkan outputnya mampu menurunkan angka kematian ibu melahirkan dan anak baru lahir. “Kadang-kadang kita sudah hebat duluan. Tapi setelah diukur dengan parameter yang jelas, secara statistik belum mencapai target positif, ya berarti itu belum berhasil,” tandasnya.


(Agus Setiawan/CN39/SM Network)